Rabu, 15 Desember 2021

Bijak Dalam Bermedia Sosial

Bismillah..

Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullah wa barakaatuh. 😊

Alhamdulillah, Segenap Puja dan Puji hanya patut bagi Allah yang Mahabaik kepada kita. Dengan izinNya pertemuan ke-16 kelas Guru Motivator Literasi Digital yang berlangsung via WA dapat kususuri jalannya. Setelah sejak pagi tadi jaringan seluler di tempatku sempat menghilang hampir seharian. Alhamdulillah, kini ia kembali dan menghapus rinduku akan dirinya. Astaghfirullah.. kok aku  jadi curhat di dunia terbuka seperti ini 🀭

Hari ini, Senin tanggal 6 Desember 2021. Jadwal kelas GMLD awalnya akan diisi oleh Mr. Bams. Namun, karena satu dan lain hal, materi menarik bertema Bijak Dalam Bermedia Sosial disampaikan oleh Pak Dail Maruf yang didampingi Pak Muliadi dan Bu Rosminiyati.

Dengan rendah hati, Pak Muliadi dan juga Pak Dail mengawali penyampaian materinya dengan menjabarkan perkembangan media digital. Bermula dari hanya Radio dan Televisi kemudian Hand phone dengan modal SMS serta SMS grup lalu beranjak ke Black Berry Massanger alias BBM yang sempat membuat semua orang demam BBM. Seiring berjalannya waktu, BBM pun tergeser oleh hadirnya android dengan WhatsApp (WA) sebagai produk dari face book (FB) dalam rupa yang lebih sederhana sesuai kebutuhan konsumen. WA pun kini menduduki tempat teratas kedua di dunia digital dalam hal penggunaannya.


Dari grafik tersebut di atas tentu semakin benderang terlihat bahwa kini kita telah dikepung oleh media sosial. Berbagai aplikasi dengan segala kelebihan dan kekurangannya pun terus bermunculan dan kian mewarnai media sosial.

Oleh karena itu, kita harus bijak dalam bersikap di tengah padatnya arus informasi dan komunikasi di jejaring media sosial.

Bijak? Media sosial? Apa sih..?

Pertama kita mulai dari defenisi media sosial ya..

Media merupakan sarana atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim kepada penerima pesan, dengan tujuan meningkatkan pemahaman penerima pesan.

Sementara media sosial dalah sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Andreas Kaplan dan Michael Henlein mendefinisikan media sosial sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 dan memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content ”

User generated content sendiri merupakan berbagai bentuk konten baik tulisan, video, foto, review, dan lainnya yang dibuat oleh seseorang seperti konsumen, pelanggan, atau bahkan followers.

Sederhananya media sosial merupakan media yang digunakan masyarakat untuk mengomunikasikan suatu hal tertentu kepada pihak lain baik perorangan atau publik.

Selanjutnya bijak memiliki 2 arti, yakni:

Pertama bijak berarti pandai, mahir dan selalu menggunakan akal budi.

Kedua ialah pandai bercakap-cakap, petah lidah.

Sedangkan menurut Pak Haji M. Nur, Guru Agama yang tak lain adalah Ayah Pak Dail, bijak berarti adil yang bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sehingga orang bijak ialah orang yang pandai menempatkan segala sesuatu sesuai peruntukannya.

Begitu pula dengan bermedia sosial, kita akan disebut bijak bila kita menggunakan media sesuai fungsi sesungguhnya. So, catat nih.. manfaat media sosial ialah:

1.       πŸ‘‰Menjalin silaturahmi

2.       πŸ‘‰Menambah relasi

3.        πŸ‘‰Bisnis

4.        πŸ‘‰Pentas karya

Bahkan Pak Dail mencontohkan bahwa saat ini kita sedang menjalin silaturahmi. Dengan begitu, kita juga mendapat manfaat lainnya yaitu, perolehan informasi, ilmu, bahkan peluang bisnis. Contoh lain, misalnya kita punya sesuatu yang berkhasiat baik bagi tubuh yang kemudian diramu dan dikemas sedemikian rupa lalu di-share di media sosial agar bisa membantu sesiapa yang sekiranya memerlukan dan sekaligus menjadi tambahan pemasukan serta peluang bisnis.

Singkatnya, ibarat pisau, media sosial pun memiliki dua sisi. Berguna atau berbahaya. Mendatangkan manfaat ataukah menjadi mudharat. Tergantung pada kita yang menggunakannya.

Ketika media sosial dioptimalkan penggunaannya untuk hal bermanfaat, maka kebaikanlah yang kita raih. Namun, sebaliknya bila media sosial digunakan dengan cara yang salah dan untuk hal negatif, bersiaplah menuai segala macam akibatnya.

Di penghujung sesi penyampaian materi, Pak Dail menyatakan bahwa bijak itu tidak berarti hanya dimiliki oleh orang tua ataupun orang yang sudah tua. Karena (bila Allah masih memberi usia) menjadi tua adalah kepastian. Sedangkan menjadi yang bijak adalah pilihan kita.

Kepada Pak Dail, Pak Muliadi dan Bu Ros.. Terima kasih, Jazakumullah ahsan Jaza’. πŸ’

Literasi Digital Menciptakan Kemampuan dan Kesempatan

 Bismillahirrahmaanirrahiym.



Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah Rabb semesta alam. Sore Jumat, 3 Desember 2021, Narasumber bernama Raimundus Brian Prasetyawan atau biasa disapa Pak Brian bersama Bunda Helwiyah mengisi pertemuan ke-15 kelas GMLD via zoom dengan tema Literasi Digital menciptakan kemampuan dan kesempatan.


Di kehidupan kita saat ini tidak lepas dari dunia dan media digital. Termasuk zoom, blog, e-book, gambar digital dan segenap aplikasi yang dapat kita download di play store gawai kita merupakan media digital yang pastinya kini melekat di keseharian kita.

Untuk itu perlu kehati-hatian dalam penggunaannya, sebab tidak semua orang menggunakannya dengan benar. Sehingga penting bagi kita memahami apa itu literasi digital. Selanjutnya sebagai guru kita pun perlu menggaungkan literasi digital terhadap para peserta didik kita serta masyarakat di lingkungan sekitar kita.


Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat kita pahami bahwa sesungguhnya literasi digital bertujuan agar kita memiliki pengetahuan tentang media digital yang kemudian bermuara pada sikap kita dalam menggunakan dan memanfaatkan media digial secara bijak.

Berbicara tentang kemampuan dan kesempatan, mari kita pahami terlebih dahulu bahwa kemampuan semakna dengan skill, yaitu kecakapan atau kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Sedangkan kesempatan berarti peluang atau keluasan waktu untuk melakukan sesuatu.

Beberapa hal yang dapat diperoleh melalui dunia digital antara lain:

1. Memperoleh wawasan dan ilmu baru.

Saat ini beragam informasi dan pengetahuan dapat kita peroleh dengan mudah. Cukup mengetikkan kata kunci dari apa yang kita cari di laman utama google, semuanya tersaji di depan mata. Kuncinya ada pada diri kita sendiri.

2. Mengembangkan diri

Dunia digital dengan segala perangkatnya memberikan kita berjuta kemudahan. Mengembangkan diri, mempelajari sesuatu yang baru agar mampu dalam bidang tertentu merupakan sebuah pilihan. Apakah kita hanya akan berjalan di tempat ataukah berkeinginan untuk bergerak menuju perubahan?

3. Meningkatkan skill 

Poin ini berbeda dengan poin sebelumnya. Sebab, dalam hal ini kemampuan dasar sudah kita miliki, kemudian ditingkatkan lagi. Sebagai contoh, seseorang yang semula suka menulis tetapi tidak pernah disalurkan, dengan adanya media digital kemampuannya bisa ditingkatkan secara maksimal.

4. Tambahan penghasilan

Yang dimaksud di sini ialah terbukanya peluang bisnis Online. Ketika seseorang aktif dunia digital dengan hal-hal positif dapat sekaligus memberikan manfaat finansial. Misalnya tulisan yang ada di blog jika dikumpulkan akan tercipta sebuah buku, yang dapat kita jual menghasilkan rupiah. Bisa ditawarkan melalui media sosial, grup WhatsApp, market place dan sebagainya. Bahkan di tengah kesibukan mengurus keluarga, seorang ibu rumah tangga pun dapat memanfatakan media digital untuk penjualan secara oline untuk tambahan penghasilan keluarga.

5. Menjalin relasi.

Salah satu kemudahan yang kita peroleh dari adanya media digital dan ruang maya adalah ‘mengeliminasi kata jarak’. Semua kita bisa saling berkomunikasi dan bertukar informasi. Di samping itu, kita pun dapat bergabung dalam komunitas tertentu yang ada di media sosial, sehingga tercipta jalinan silaturahmi. Contoh kecil, sedikit tidaknya dalam GMLD sebagai salah satu wadah kebersamaan guru-guru senusantara ini telah terjalin komunikasi nyata antarsesama anggotanya.

Pada pertemuan yang berlangsung interaktif sore ini, Pak Brian pun memaparkan beberapa contoh upaya mencipatkan kemampuan dan kesempatan yang dilakukan oleh beliau, di antaranya:

  1. Belajar secara otodidak. Sejak 2009 beliau menggandrungi platform digital bernama blog.
  2. Mengembangkan kemampuan di bidang menulis. Selain di blog, Pak Brian pun menulis buku. Pertama kali di tahun 2019 beliau mengirimkan naskah ke penerbit. Sehingga Alhamdulillah tak berselang lama, pada Januari 2020 bukunya diterbitkan.
  3. Menemukan penerbit pun melalui media digital.
  4. Mengikuti kelas menulis yang diprakarsai oleh Om Jay pada maret 2020.
  5. Media sosial, instagram adalah
  6. Mengajak siswa menulis tetang hobi. Terbuka juga kesempatan untuk gerakan literasi.
  7. Menjual buku di dunia digital yaitu lewat media sosial. Misalnya lewat story WA, FB, dsb sehingga kemudian menjadi tambahan penghasilan.
  8. Bermula dari menjadi peserta Pelatihan belajar menulis di komunitas PGRI lalu bergeser ke narasumber kemudian menjadi pengurus.
  9. Mengenal dan berkesempatan ikut antologi bersama Bunda Sri Sugiastuti. Dan pernah pula menjadi kurator.
  10. Kesempatan mengenal penerbit-penerbit mayor.
  11. Membentuk komunitas guru blogger. Weblog www.lagerunal.blogspot.com dan IG: @lagerunal.
  12. Membuat penerbitan buku sejak Juli 2020. Lebih dari 60 buku. Niatnya untuk membantu para peserta belajar menulis untuk menerbitkan buku.
  13. Membuat pelatihan blog. Bertujuan menjawab kebingungan, banyak masalah, kendala, dst yang dirasakan oleh pemula yang hendak memiliki blog, maka dibuatlah pelatihan blog. Langkah membuat blog secara detail bisa dilihat di blog Pak Brian yakni guru blogger milenial.

Saat sesi tanya jawab, Pak Brian dan Bunda Ewi memunculkan nuansa yang berbeda kali ini. Sebab, yang ada adalah dengan rendah hati semua saling berbagi tips. Beberapa poin yang diuraikan dalam sesi tersebut sebagai berikut:

πŸ‘‰Mengenai proses daftar ISBN. Yang bisa mengajukan ISBN adalah penerbit bukan kita secara personal. Bila hendak menerbitkan buku bisa juga lewat Pak Brian.

πŸ‘‰Dalam hal Menggerakkan literasi kepada siswa:

Fasilitasi anak untuk menulis tanpa harus mematok halaman. Cukup beri batasan minimal dalam jumlah kata.

Selain memberi tema, kita juga bisa mengumpan dengan pertanyaan yang membuat mereka untuk menulis agak banyak.

Cara meminimalisir anak menyadur tulisan dari internet adalah saat Pertemuan Tatap Muka (PTM) biasakan anak menulis tentang tema-tema sederhana terlebih dahulu misalnya terkait apa-apa yang menjadi hobi mereka. Atau, tema pengalaman pribadi dan jangan lupa menugasi anak-anak untuk menyusun struktur atau kerangka untuk dikumpulkan terlebih dahulu. Sehingga tanpa sadar anak-anak tergiring untuk membuat sendiri tulisannya.

cara lainnya, mengajak anak menulis selama pandemi menggunakan google slide atau White board yang dibagikan secara online agar anak berkolaborasi mengungkapkan perasaannya lalu kemudian di google meet, mereka semua akan bersama-sama saling menunjukkan karyanyanya. Luar biasanya adalah ini termasuk pada anak kelas 1 sudah diperkenalkan dan mampu menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut. Meskipun kemudian anak-anak hanya akan memberi goresan berupa coretan-coretan. Tidak masalah. Yang penting anak-anak mau dan mereka ikut terlibat dalam proses pembelajaran.

πŸ‘‰Cara menghidupkan blog adalah sering berkunjung ke blog orang lain dan tinggalkan jejak di sana. Untuk hal ini berlaku hukum alam. Di mana bila kita banyak berkunjung ke blog orang lain, insya Allah blog kita pun akan dikunjungi, meskipun kadang tidak semuanya kembali mengunjungi blog kita. Yang terpenting adalah nama kita sudah terekam di blog mereka. Oleh karena itu pula, sedapat mungkin kita memberikan komentar yang menarik saat berkunjung ke blog orang lain. Agar orang merasa penasaran lalu berkunjung ke blog kita. Selain itu kita juga bisa membuat tulisan dengan tema yang sedang tren atau populer sehingga ketika ada yang mencari di google, maka blog kita pun muncul di hasil pencarian. Satu hal yang cukup memberi pengaruh adalah judul. So, buat judul tulisan yang menarik.

Hmm.. sungguh banyak ilmu yang dibagikan Pak Brian dan Bunda Ewi serta teman-teman sekalian pada sore ini.

Terima kasih, jazakumullah ahsan jaza’ πŸ’ 

Menjelajah Alam Digital Yang Luas

Bismillahirrahmaanirrahiym.



Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang Mahabaik kepadaku. Setelah beberapa waktu lalu sempat ‘terpental’ dari circle ini oleh sebab diriku sendiri, akhirnya pertemuan ke-14 kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) bisa kuikuti tepat waktu bersama teman-teman dan kini kembali jemariku menari di atas tuts keyboard guna membuat resume ini.

Yang menurutku adalah master diksi, Yunda Maesaroh, M.Pd atau yang terkenal dengan nama pena Maydearly adalah sang narasumber pada kesempatan kali ini, Rabu tertanggal 1 Desember 2021. Yang Membuka serta membersamai kami dalam jalannya penyampaian materi, dan selama sesi Q n’ A (Question and Answer, tanya jawab) hingga selesai ialah Mz Phia selaku moderatornya. Materi yang disampaikan yaitu Menjelajah Alam digital yang Luas.

Di awal pemaparannya, sang blogger milenial, Yunda Maesaroh menyampaikan bahwa menjelajahi dunia digital tentu perlu kecakapan, agar kita mampu memiliki wawasan yang luas. Bukan hanya soal seberapa luasnya dunia maya yang dijelajahi, tetapi juga luasnya intelektual kita dalam berjelajah di dunia digital.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita untuk mengembangkan literasi digital. Terdapat 4 Pilar dalam mengembangkan Literasi Digital, yakni:

  1. Digital Culture

cakap  bermedia digital dengan memanfaatkan media digital sebagai alat untuk menghubungkan satu koneksi menuju seluruh dunia

  1. Digital Safety

cakap dalam melindungi diri dan aset digital ketika sedang berada di dunia digital.

  1. Digital Ethics

etis dalam menggunakan dunia digital dengan tidak mengalahgunakan alat digital sebagai penyebar informasi hoaks

  1. Digital Skill

cakap secara tehnologi dalam menggunakan piranti digital sebagai alat untuk meng up grade pengetahuan. Adapun kecakapan dalam hal ini perlu meliputi 8 kecakapan diantaranya : Cakap dalam memakai ilmu Coding, Collaboration, Cloud software, Word Processing software, Screen Casting, Personal digital archiving, Information Evaluation, Use of social media.

Alam digital atau yang tren disebut dumay alias dunia maya adalah sebuah alam yang memberi koneksi antara satu individu dengan individu lainnya lewat kecanggihan sebuah teknologi sehingga yang jauh pun menjadi dekat.


Sebagai seorang guru tentu kita mengetahui sebagian besar anak didik kita sudah menggunakan piranti digital. Mereka sangat pandai bergaul di dunia maya. Bahkan tak jarang ketika gurunya belum mengerti sebuah aplikasi, anak muridnya malah sudah mahir menggunakan medsos. Dan tak sedikit dari anak didik kita yang terkadang salah kaprah dalam penggunaan media sosial.

Oleh sebab itu, amat penting bagi kita untuk menggaungkan literasi digital terhadap anak didik kita, para orang tua/wali siswa, ataupun masyarakat di lingkungan kita. Diperlukan pemahaman yang cukup mengenai dunia digital bagi kalangan anak muda dan keterbukaan informasi di media sosial yang memberikan dampak negatif penggunaan media sosial seringkali dialami oleh anak muda khususnya para pelajar.

 

Yunda Maesaroh juga mengingatkan kita mengenai defenisi usia muda atau remaja berasal dari kata adolesence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolesence mempunyai arti yang lebih luas lagi, yaitu mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Usia remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa yang dialaminya dalam tiga tingkatan yaitu praremaja 10-12 tahun, remaja awal 13- 16 tahun dan remaja akhir 17-21 tahun. So, anak didik kita di semua jenjang termasuk remaja nih, kecuali kisaran yang masih duduk di kelas IV (empat) MI ke bawah.

 

Dalam menyongsong abad 21 ketika implementasi pembelajaran melalui mesin (komputasi) segala informasi tersedia dengan luas, dimana saja dan kapan saja. Maka, literasi digital menjadi penting untuk membangun pendidikan yang berintergrasi pada pergeseran pembangunan pendidikan ke arah ICT (Information and Communication Technologies) sebagai salah satu strategi manajemen pendidikan abad 21 yang di dalamnya meliputi tata kelola kelembagaan, dan sumber daya manusia. Untuk itu,  edukasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam meningkatkan budaya cerdas ber-literasi agar para generasi penerus bangsa mampu menyaring  informasi  dengan baik yang beredar dari media sosial.

 

Pemahaman literasi digital yang buruk akan berpengaruh pada dampak psikologis anak dan remaja yang cenderung menghina orang lain, menimbulkan sikap iri terhadap orang lain, mengakibatkan depresi, terbawa arus suasana hati terhadap komentar negatif, serta terbiasa berbicara dengan bahasa kurang sopan. Atas dasar pandangan tersebut, hal inilah yang menyebabkan dampak buruk dalam berinteraksi. Tentunya, ini menjadi bahan refleksi sekaligus tugas kita para guru untuk terus menggaungkan literasi digital.

 

Termasuk yang perlu ditekankan dalam literasi digital ialah mengenai penggunaan piranti digital yang terlampau tinggi atau terlalu sering dalam waktu yang relatif lama dan tanpa henti, maka para penggunanya akan cenderung mengalami Digital Fatigue. Digital Fatigue atau dengan kata lain kelelahan dalam menggunakan media digital. Ciri-cirinya antara lain:

🧐  Perasaan lelah, bosan, malas, dengan berbagai kegiatan digital seperti zoom meeting, webinar, media sosial, dan berbagai platform digital lain.

🧐  Mata terasa sakit, lelah, dan perih.

🧐  Mata terasa sakit, lelah, dan perih.

🧐  Sakit kepala dan migrain.

🧐  Nyeri otot leher, bahu, atau panggung.

🧐  Sensitif terhadap cahaya.

🧐 Gangguan pada fokus, konsentrasi, dan memori.

🧐 Merasa putus asa dan tidak berdaya.

🧐 Kewalahan menghadapi situasi yang berulang.

🧐 Badan terasa lemah, lesu, tidak bertenaga, dan malas bergerak.

🧐 Muncul perilaku yang aneh dan tidak wajar.

 

Ada 5 kecakapan yang perlu dikuasai dalam berliterasi media bagi pelajar dan semua kalangan. Terlebih kita, para guru semestinya menguasai 5 kecakapan tersebut, yaitu:


Di samping itu, untuk mengembangkan literasi digital agar kita mampu bermedia digital dengan baik, perlu kita fahami 8 elemen esensial berikut ini:

1.       Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna digital.

2.      Kognitif, yaitu daya pikir menilai konten.

3.      Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual.

4.      Komunikatif, yaitu memahami kinerja dan jejaring komunikasi di dunia digital.

5.      Kepercayaan diri yang bertanggungjawab.

6.      Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru.

7.      Krisis dalam menyikapi konten.

8.      Bertanggungjawab secara sosial.

 

Pada dasarnya media sosial yang kental dengan kehidupan masyarakat saat ini, menunjukkan bahwa hal itu berbanding lurus dengan animo masyarakat terhadap kebutuhan informasi. Sebenarnya hal ini merupakan hal yang baik. Sayangnya, karena media sosial merupakan salah satu arena untuk menyebarkan informasi, maka ada banyak informasi yang simpang siur. Oleh karena itu, mengingat pula bahwa media sosial dipakai sebagian besar rakyat dunia, maka perlu literasi media yang massif agar kita mampu menggenggam dunia dengan cara yang benar.

 


Literasi media sosial merupakan suatu keterampilan yang diperlukan untuk tetap dapat melakukan aktifitas ber-media sosial dengan aman. Sebagai warganet yang baik, kita harus mampu menyaring dan memberikan informasi yang edukatif. Sesuai dengan istilah media sosial yang dikemukakan oleh (Taylor & Francis Online, 2014) bahwa media sosial memiliki akronim sebagi berikut:

1.   Sharing views

2.   Optimizing Knowledge

3.   Collaborating on projects

4.   Investigating new ideas

5.   Advocacy for your service provision

6.   Learning from others

7.   Making new connections

8.   Enhancing your practice

9.   Debating the future

10.  Inspirational support

11.   An essensial tools for your information toolbox

 

Sebagai guru tentu kita sadar bahwa kita sedang mengemban peran penting dalam mewujudkan harapan kita bersama dimana generasi milenial dalam dunia digital akan terus menggelinding dan akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Target Indonesia emas akan tercapai bila generasi milenial saat ini melek wawasan kebangsaan, dan menguasai literasi kebangsaan. Syarat cerdas berliterasi digital adalah memiliki karakter kebangsaan yang perlu dijunjung  tinggi dan harus menjadi poin utama dalam berbagai aspek. Beberapa nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan, diantaranya:

1.    Nilai Kejujuran

2.    Nilai Semangat

3.    Nilai Kebersamaan atau Gotong royong

4.    Nilai Kepedulian  atau solidaritas

5.    Nilai Sopan santun

6.    Nilai Persatuan dan Kesatuan

7.    Nilai Kekeluargaan

8.    Nilai Tanggungjawab

 

Beberapa poin penting lainnya diungkapan oleh Yunda Maesaroh melalui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dari peserta GMLD yang diperantarai oleh Mz Phia Sang Blingual Blogger. Poin-poin tersebut antara lain:

🧐  Salah satu cara guru mengedukasi di media digital ialah dengan membuat sebuah story di medsos kita tentang refkeksi pembelajaran yang bisa juga ditambah dengan foto2 kegiatan peserta didik kita, kemudian tag mereka. Atau, berikan tantangan kepada mereka untuk membuat story di sosmed terkait refleksi pbelajaran dan tag teman-temannya beserta akun kita. Dengan begitu anak akan merasa terawasi sehingga bertanggungjawab dalam bermedia sosial dan lama kelamaan peserta didik kita secara tak sadar sudah terjun dalam literasi media.

🧐 Perlu dibuat sebuah komunitas di madrasah/sekolah sebagai target literasi media yang kita berikan arahan untuk be aware dalam bermedia sosial. Sehingga kemudian dari komunitas ini lahir informasi-informasi yang yang memantik edukasi.

🧐  Cara mengintip tingkah anak-anak yang membatasi sosmednya, misalnya yang mem- privasi story WA dari kita, gurunya bisa kita lakukan melalui akun temannya, yang memang kita lakukan pendekatan dalam target literasi media.

🧐 Untuk menggaungkan literasi media di madrasah/sekolah kita bisa melibatkan anak-anak OSIM/OSIS.

🧐  Bagi yang sudah tercandu dalam bermedsos perlu kita edukasi dengan ranah pendekatan yang baik, tanpa kekerasan tapi dapat menyentuh hati mereka.

🧐 Disarankan kepada orangtua siswa agar berteman dengan anaknya di media sosial.

 

O iya, tips jitu menghindari digital fatigue adalah membatasi diri dalam bermedia sosial dan membuat skala prioritas dalam berselancar di dunia maya.



“Mulailah dari diri kita, yang memberi perubahan” sebuah kalimat sebagai closing statement dari Yunda Maesaroh. Kita para guru perlu menjadi stakeholder dalam pengembangan literasi media karena media merupakan alam maya yang mampu membawa kita terhubung pada dunia yang lebih luas.


Berbincang dengan Hoaks, Media Sosial dan Dunia Digital

 Bismillahirrahmaanirrahiym.



Senin, 29 November 2021, Pak Dail selaku moderator membuka pertemuan ke-13 kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) dengan mengungkapkan sebuah harapan agar sang pemateri dan tim serta segenap anggota grup GMLD selalu dianugerahi kesehatan dan kesuksesan. Selanjutnya Pak Dail mengajak kami untuk lebih mengenal sosok pemateri kali ini yakni Bu Aam Nurhasanah sang Kepala SMP Matlaul Hidayah Lebak, Banten melalui link blog https://aamnurhasanah12.blogspot.com/2021/01/intip-profilku-yuks.html.

Materi yang dibawakan Bu Aam bersama Pak Dail sore ini ialah tiga hal ini sangat berkaitan satu sama lain yaitu Berbincang dengan Hoax, Sosmed dan Dunia Digital. Penyampaian materi berjalan interaktif. Pak Dail memulainya dengan memancing tanya pada bu Aam. “Apa itu hoax bu... kok kita berbincang dengannya??”

Bu Aam pun memberi kesempatan pada para peserta yang aktif saat itu untuk menjawab terlebih dahulu melalui kode menti untuk mentimeter yang telah disiapkan oleh Bu Aam. Berikut Bu Aam pun menyampaikan defenisi Hoaks merupakan berita bohong atau berita yang sesungguhnya harus diverifikasi kebenarannya sebelum ‘ditelan’ apalagi di-share.

Seiring perkembangan zaman, medsos dan dunia digital adalah makanan empuk untuk menyebarkan hoax. Sebagai contoh, salah satunya ialah pesan WA bahwa kita mendapat hadiah berupa voucher dengan nominal tertentu seperti berikut:

http://paketdatabelajar.site/?v=Subsid

KEMENDIKBUD

Program kuota belajar pulsa 250rb dan kuota 75GB untuk dosen, guru, siswa, mahasiswa selama pembelajaran jarak jauh periode desember!

Batas akhir 2021-12-29

Atau seperti link di bawah ini:

yang menyatakan bahwa kita akan mendapat hadiah setelah melakukan beberapa langkah termasuk memilih operator jarigan yang kita gunakan dan juga untuk menyebarkan link tersebut kepada orang lain semisal 5 grup atau 20 orang lainnya hingga grafiknya penuh 100%.

Langkah yang bisa kita lakukan utuk menyikapi pesan tersebut antara lain:

😊  Langsung dihapus. Tanpa memberi respon.

😊  Merespon dengan membalas kepada pengirim pesan tersebut, sampaikan bahwa itu hoaks dan jangan disebar.

 

Saat ini kehidupan kita tentu tak lepas dari media sosial dan setiap kita bisa menjadi pembuat berita. Banyak pula orang yang ahli menyalahgunakan medsos untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Selain seperti dua contoh di atas, Bu Aam sendiri pun pernah mendapat informasi hoaks. Dalam kasus yang dialaminya via WA atau telegram tersebut modusnya si penipu menunggu respon kita untuk menjawab OK. Selanjutnya orang itu akan meminta nomor PIN telegram kita atau 6 angka di pesan WA. Jika diberikan, sudah pasti  akan disalahgunakan. Akun kita pun bisa dibajak.

apa trik agar kita tidak terjerat perangkat hoax di medsos Bund?? Pak Dail kembali mengorek narasumber yang telah menulis puluhan antologi dan buku solo tersebut.

“Intinya, ayo gunakan medsos dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. Akan lebih bijak jika kita share ilmu yang bermanfaat” jawaban singkat padat Bu guru hebat yang gemar merajut itu. Beliau juga menyarankan agar sebaiknya kita mengenali dan mencermati terlebih dahulu pesan yang kita terima sebelum di-share agar tidak merugikan orang lain.

Agar tak terjebak dalam lingkaran hoaks dan terhindar dari predikat korban hoaks, tipsnya ialah mari kita lebih bijak lagi dalam menyaring informasi. Dan, berikut ciri-ciri hoaks yang bisa dikenali:

1.      Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan.

2.     Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.

3.     Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah.

4.     Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal.

5.     Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat.

6.     Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya.

7.     Memberi penjulukan.

8.     Minta supaya di-share atau diviralkan.

9.     Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.

10.  Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.

11.   Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal.

 

Sehingga bila kita menerima berita hoax dari orang yang belum kita kenal, kita pun bisa melaporkannya ke kominfo. Dan dalam sesi tanya jawab Bu Aam pun memaparkan jawabannya dengan lugas, di antaranya sebagai berikut:

  1. Bila kita sudah memberi tahu pada penyebar bahwa informasi yang disampaikannya adalah hoaks, tetapi orang tersebut masih dibela dan menyatakan bahwa beritanya benar, kita bisa buktikan dengan mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Kemudian tunjukkan bukti dan klarifikasi apakah itu hoaks atau tidak.
  2. Menyikapi adanya hoaks dalam grup dapat kita lakukan adalah memberi tahu bahwa itu hoaks dan jangan diteruskan ke orang lain. Takutnya, orang yang menerima pesan karena ketidak tahuannya kita wajib saling mengingatkan. Sementara jika orangnya tidak dikenal dan mencurigakan, sebagai admin biasanya langsung saya keluarkan. Namun, bila kita anggota, bisa dilaporkan ke admin grup.
  3. Kita perlu mengamankan akun secara periodik dengan verifikasi 2 langkah dalam menu pengaturan akun.
  4. Kalau dulu terkenal dengan jargon mulutmu harimaumu, maka saat ini menjadi jarimu harimaumu. Kalau kita tidak inngin diterkam harimau, jagalah jari-jari kita dari mengunggah hoaks ataupun segala bentuk informasi dan berita palsu di media sosial atau di dunia digital.
  5. Jadikan diri kita lebih cakap dan cerdas di era digital dan bagikan ilmu yang memotivasi, menebar energi positif, dan menginspirasi.

Rupanya selain pertanyaan seputar materi, pertemuan sore ini menjadi kian istimewa karena pertanyaan dari kawan kita, Wulan dari grup GMLD 2. “Bagaimana trik sukses bu Aam  memiliki puluhan buku solo dan antologi di sela-sela kesibukan beliau, bisa beri kami tips tips nya bu agar bisa sukses seperti prestasi yang diraih narasumber kita bu Aam. Terimakasih.”

“Tipsnya cuma satu. Belajar menulis setiap hari. Satu tahun yang lalu, saya belum menjadi penulis. Karena saya melatihnya setiap hari seperti judul buku Omjay, Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi, akhirnya buku saya bisa sampai 37 buku. Coba menulis hal-hal yang sederhana. Semudah kita update status di medsos dan gabung kelas menulis Omjay. Saya sudah membuktikan keajaiban menulis setiap hari lewat blog, bisa jadi brankas ide tulisan.” Demikian jawaban dari narasumber yang gemar merajut itu.

Na, di penghujung kuliah online via WA ini, Bu Aam bersama Pak Dail mengingatkan kita semua akan bunyi surat QS. Al Hujarat ayat 6 yang artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan(kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu."

Ayat tersebut sangat tepat untuk menjadi reminder kita. Dan akhirnya Bu Aam memberi satu kalimat sebagai pernyataan penutup dari beliau “Untuk peserta teruslah menjadi guru yang memotivasi dan menginspirasi.”

Tak kalah penting dari itu semua, Pak Dail pun menutup acara sore ini dengan mengucapkan kalimat yang menyejukkan “selamat berbuka puasa bagi yang shaum senin, dan selamat menunaikan sholat magrib untuk yang muslim.”

Terakhir beliau melanjutkan kalimatnya, “selamat malam untuk kita semua, moga selalu sehat dan diberkahi. Aamiin”

Sampai Ketemu Lagi

Sampai ketemu lagi. "Kak As, nanti saya telpon ya" Aku menjwabnya dengan senyuman. "Sampai ketemu lagi, kak" ia pu...