Rabu, 15 Desember 2021

Mengekspresikan Diri yang Baik di Media Sosial

Bismillahirrahmaanirrahiym.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidinaa Muhammad wa alihi.

Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah yang senantiasa menganugerahi kita segala Ni’matNya sehingga pertemuan ke- 12 kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) via zoom meeting pada sore hari ini (Jumat , 26 November 2021) dapat terlaksana. Materi bertema Mengekspresikan Diri yang Baik di Media Sosial pada pertemuan kali ini disampaikan oleh Bunda Sri Sugiastuti yang didampingi oleh moderator yang tak lain adalah ketua GMLD angkatan 1 ini, Dail Maruf.

Media sosial kini merupakan platform yang paling diminati masyarakat untuk mendapatkan bahkan menyebarkan informasi. Dengan adanya beragam media sosial dan merebaknya berbagai aplikasi saat ini, kita harus memiliki skala prioritas dalam menjalani 24 jam waktu yang kita miliki. Tidak semua hal yang tersaji di dunia maya perlu kita reguk. Ditambah pula keadaan di tengah pandemi kini membawa kita ke situasi baru, di mana proses pembelajaran pun dilakukan secara daring. Sehingga kehidupan kita semakin lekat dengan dunia digital. Narasumber yang akrab disapa Bunda Kanjeng ini, menyebutkan bahwa kata lain dari mengekspresikan diri yang baik di media sosial adalah jadilah netizen (internet citizen atau warga internet) yang baik.

Masing-masing pihak telah berupaya melakukan yang terbaik dalam kaitannya dengan dunia digital. Pemerintah bertanggung jawab terhadap pemerataan prasarana penunjang berupa jaringan internet di seluruh penjuru negeri. Agar tidak terjadi kesenjangan kemajuan dan pemahaman akan teknologi dan pemanfaatannya dalam berbagai bidang antardaerah di negeri ini. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kememkominfo) bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta siberkreasi tengah terus menggalakkan gerakan literasi digital. Demikian pula adanya kelas GMLD yang diprakarsai oleh Om Jay ini. Semuanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan untuk tidak sembarang menyebarkan konten atau berita, terlebih yang belum dipastikan kebenarannya.

Selanjutnya kita sebagai masyarakat yang pada era ini juga berkedudukan sebagai warga internet, perlu menjalankan peran kita dengan bijak, yaitu menjadi netizen yang baik. Caranya ialah dengan memanfaatkan media digital secara optimal dan proporsional.

Kita dituntut untuk berperilaku baik di media sosial. Agar kemudian kita menjadi tidak menjadi korban kekisruhan apalagi bertindak sebagai trouble maker, penyebab kisruh di dunia maya. Dalam hal menjadi netizen yang baik, kita tentu perlu memperhatikan dan mengamalkan trik berikut:

1.      Sebagai pribadi yang beragama, perhatikan akhlak dan adab terhadap sesama. Baik bertutur kata secara lisan maupun tulisan di jagad media sosial.

2.        Posting hal-hal baik yang betul-betul dibutuhkan oleh netizen.

3.    Kita mesti menjadi bumper di tengah masyarakat yang awam dan minim literasi. Jika kita membaca gunakan kacamata 5 dimensi. Artinya setiap informasi yang kita terima sebaiknya ditelaah terlebih dahulu dengan 5W + 1H. Terlebih sebagai guru, lakukan tabayun dahulu baru kita sampaikan ke orang lain termasuk anak didik.

4.    Ingat selalu bahwa menjadi netizen harus pandai. Jangan sampai kita terkena UU ITE (Undang-Undang  Informasi dan Transaksi elektronik).

5.    Posisikan diri sesuai tempatnya. Hati-hati mem-posting misalnya motivasi bernuansa agama dalam suatu komunitas yang beragam komposisinya. Jangan sampai kita malah membuat anggota grup lainnya merasa tidak nyaman atau higga berujung ke leave grup gara-gara terlampau seringnya kita post .

6.     Dalam sebuah komunitas biasanya terdapat ketentuan yang ditetapkan, maka saat bergabung di komunitas tertentu PR kita adalah ikuti aturan yang ada.

7.    Merujuk pada poin sebelumnya, Jangan posting iklan ataupun hal-hal yang di luar dari lini komunitas tersebut.

8.   Sekiranya sesekali tak mengapa berlelucon di grup. Pastinya selama tidak menyinggung pihak-pihak tertentu. Satu yang harus kita sadari di masa pandemi orang terkadang menjadi sensitif. Sebagai guru jangan berkata atau bersikap yang menusuk para orang tua siswa.

9.        Berselancarlah dengan baik serta santun berkomunikasi di dunia Maya.

10.       Hati-hati dengan nomor-nomor tak dikenal yang berseliweran menebar modus. Terutama Nomor 043.

11.        Terakhir, Waspadalah!

Pertemuan kali ini sangat interaktif. Bunda -my lovely darling nickname- menyampaikan materi dengan singkat dan padat. Sedangkan para peserta zoom mencurahkan berbagai pengalaman akan adanya penyusup dalam grup, modus penipuan yang ternyata tidak hanya mengahmpiri para ibu melainkan Bapak-bapak pun terkena ‘rayuan maut’ seperti ajakan berinvestasi, mengembangkan usaha dan lain sebagainya. Detail aktsi para ‘trouble maker itu antara laian, mengajak kenalan, bersikap sok kenal, mengirimkan pesan berisi iming-iming hadiah dalam berbagai bentuk, misalnya sejumlah uang yang kemudian kita diminta memberikan sederet angka pin atau password. Atau ada pula hadiah berupa barang tertentu hingga barang branded. Namun, pada akhirnya yang diberi hadiah ‘ditodong’ untuk membayar sejumlah uang pajak atas barang tersebut. Ini perlu kami tuliskan di sini agar kita bisa sama-sama menjadikannya sebagai pelajaran dan peringatan untuk berati-hati.

Selain itu, sharing dari teman-teman peserta dengan topik berbeda pun disampaikan. Di antaranya mengenai kesempatan memberikan arahan etika berliterasi di jejaring sosial kepada anak didik kita di madrasah/sekolah bisa dilakukan saat pertemuan tatap muka. Di mana pada beberapa menit dalam alokasi waktu belajar, kita sisipkan dengan arahan terkait literasi dunia digital.

Turut mewarnai pertemuan hari ini, Mr. Bams dalam menanggapi sharing pengalaman teman-teman mengenai akun email pribadi memberi tips sebagai berikut:

1.    Bersihkan jejak digital terutama di perangkat yang bukan milik kita. Biasakan untuk tidak save password akun kita di perangkat orang lain, di tempat umum,  bahkan di perangkat kita sendiri.

2.       Gunakan proteksi dan jaga email kita dengan baik.

3.      Penting bagi kita menguasai untuk merawat 'kesehatan' hp kita. Salah satu cara sederhana ialah dengan membersihkan ruang chat bila dirasa tidak perlu lagi.

4.    Agar mudah mencari sesuatu yang hendak kita baca ulang atau sesuatu yang menarik dan memang sengaja ingin disimpan, kita bisa membuat grup kecil yang minimal beranggotakan 2 orang. Kemudian keluarkan anggota lainnya (kecuali bila memang pembuatan grup disetujui bersama atau mereka berkenan untuk tetap berada dalam grup tersebut). Sehingga dalam grup tersebut meskipun tersisa diri kita sendiri, kita masih tetap bisa mengirimkan bahan di sana untuk kita baca kembali.

Pesan penting dari Bunda ialah jadilah netizen yang baik. Di samping itu Bunda meneguhkan bahwa semua yang kita temui sesungguhnya bisa dijelmakan dalam tulisan. Biarkan semuanya mengalir menemui takdirnya sehingga kita akan memperoleh segala sesuatu sesuai niat kita.

Di penghujung waktu, Pak Dail yang tampaknya sangat larut menyimak tiap sharing yang disampaikan teman-tema semua akhirnya mengajak semua participant zoom untuk bersama-sama menutup pertemuan  dengan mengucap puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Terima kasih, Bunda dan Pak Dail serta tema-teman semua😊

Keterampilan Digital Untuk Masa Depan Yang Cerah


Bismillahirrahmaanirrahiym.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidinaa Muhammad wa alihi.

Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah yang senantiasa melindungi dan melimpahkan RahmatNya kepada kita hingga akhirnya rabu sore ini (24/11/’21) kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) dapat kita langsungkan via WA sebagaimana jadwal yang telah ditentukan. Bunda Ewi selaku moderator membuka pertemuan dengan suka cita meskipun agak terkendala signal. Yang menjadi narasumbernya adalah Pak Deni Darmawan atau yang terkenal dengan nama sapaan Uncle D. pertemuan kali ini mengusung tema keterampilan digital untuk massa depan yang cerah.

“Ketrampilan digital seperti apakah yang diperlukan agar Masa depan kita cerah? Bagaimana memperoleh dan memanfaatkannya?” tulis Bunda Ewi dalam WA grup memantik Uncle D untuk memaparkan materinya. Sehingga mengalirlah untaian ilmu dari Uncle D sebagaimana kami ikat dalam tulisan berupa resume ini.

Kita sudah melewati berbagai era. Perubahan dari era ke era terjadi begitu cepat. Mulai dari era Society 0.1 sampai tak terasa kini kita sudah memasuki era society 5.0. Padahal serasa baru kemarin memasuki era society  4.0 atau revolusi industri 4.0. Hal ini menegaskan bahwa kita harus siap untuk beradaptasi, bermigrasi dengan segala perubahan yang terjadi. Sebab, kita tidak tahu ke depannya apakah nanti ada era society 6.0, 0.7, 0.8 dan seterusnya. Wallahu’alam.

Setelah menunjukkan video yang mencengankan tentang bayi berkemampuan digital “born for the internet”, Uncle D pun menyebutkan bahwa ada sebuah film menarik yang menggambarkan era massa depan. Film besutan Steven Spielberg berjudul “Ready Player One” berlatar di dunia nyata dan realitas virtual pada era 2045. Film ini membawa kita ke keadaan antara dunia nyata dan dunia virtual. Ketika dunia nyata dan realitas virtual saling tumpang tindih.


Mengingat kata Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro, “Ing Ngarso Sung Tulodho Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani” yang berarti di depan memberi teladan, Di tengah membangun kemauan, Di belakang memberi dorongan dan pengaruh yang baik ke arah kemandirian. Ialah Guru yang digugu dan ditiru. Serta berkaca dari vΓ­deo dan film tersebut di atas, maka di kesempatan ini kita bahas keterampilan di era society 4.0 atau revalousi industri 4.0. Sering juga disebut Keterampilan 4.0. atau  keterampilan abad 21.

Sebagai pengajar dan pendidik, kita semestinya senantiasa menjadi teladan, terus berkeinginan belajar dan terus memotivasi peserta didik kita. Sejalan dengan itu, menjadi guru motivator literasi digital (GMLD) berarti kita harus bertransformasi menjadi menjadi guru abad 21, yaitu menjadi guru yang multitasking. Guru yang mempunyai keterampilan digital, melek teknologi. Meminjam istilah Bapak Munif Chatib, guru harus bermigrasi agar bisa akrab dan menggunakan teknologi untuk aktivitasnya. Pak Jokowi juga pernah menyatakan bahwa langkah transformasi digital dalam menghadapi era ini salah satunya mempunyai Sumber Daya Manusia (SDM) talenta digital.

Keterampilan sama dengan kemampuan atau skill. Bisa dipelajari, digali, dilatih berproses dan dikembangkan melalui praktik dan pengalaman untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cekatan secara konsisten. Sedangkan keteampilan digital merupakan keterampilan dalam menggunakan teknologi digital salah satunya dalam memanfaatkan smart phone yang kemudian juga terhubung internet, mengeksplore aplikasi dan platform digital menggunakan gawai. So, yang dimaksud keterampilan digital itu meliputi Keterampilan 4C yaitu:

1.       Creativity dan Inovation

Kreatif dan inovasi harus dimiliki oleh kita. Orang yang kreatif selalu thinking out of the box. Ia terus menggali ide, mencari ide, dan membuat ide itu agar menjadi nothing to something. Ide mampu diwujudkan dalam sebuah produk yang bermanfaat untuk orang banyak. Jika sudah pada tahap ini maka sudah mampu melakukan “gebrakan” inovasi.

Semua dimulai dari ide dan dibuktikan dalam bentuk nyata dengan melakukan terobosan berbagai inovasi

2.        Critical Thinking.

Cara berpikir kritis dalam memanfaatkan media digital atau Kemampuan menerima informasi yang benar sehingga kita tidak termakan hoaks yang berseliweran di dunia digital. Kita perlu melakukan tabayun dengan mengajukan pertanyaan yang mengandung jurus para wartawan yaitu 5W + 1H terhadap berita ataupun informasi yang kita terima

3.        Collaboration.

Kolaborasi merupakan kemampuan bekerja sama dalam tim atau kelompok dalam melakukan berbagai tugas dan Project  sehingga setiap anggota tim dapat mendobrak kreasi dan mengukir prestasi. Kemampuan ini mendorong anggotanya untuk  mempresentasikan dan saling berkontribusi.

Satu contoh kolaborasi yang terpampang di hadapan kita ialah kerjasama Om Jay dan kawan-kawan dalam membuat program berbicara, menulis dan motivator guru literasi digital. Tanpa kolaborasi, sulit rasanya mewujudkan program-program “super keren” itu. Sinergi dalam gerakan yang membangun, sehingga akan muncul guru-guru penggerak dalam kolaborasi. Alhasil, dari kelas-kelas menulis lahir penulis-penulis buku. Dari kelas-kelas itu juga mendobrak SDM talenta digital guru.  Awesome..!

4.      Communication

Keterampilan untuk menyatakan ide dan karya menggunakan teknologi informasi komunikasi pada platform tertentu seperti youtube, WhatsApp dkk.

 “Setelah guru mengikuti kegiatan GMLD, guru bisa meningkatkan performanya, sehingga tidak ada lagi guru yang dapat gaji pas-pasan. Tapi dengan memanfaatkan platform digital, guru bisa mendapat point, koin, pujian dan cuan”. Ungkap Om Jay dalam salah satu zoom webinarnya.

Banyak sisi menarik dari dunia digital yang bisa kita manfaatkan. Contoh yang diberikan Uncle D ialah seorang Fiki Naki, anak kampung penyuka bahasa itu mampu memanfaatkan platform digital untuk belajar berbagai bahasa. Ia pun berselancar sambil mempraktekkan bahasa yang telah dipelajarinya menggunakan OME.TV sambil direkam untuk kemudian di upload ke youtube, ia mendapat poin, koin, pujian dan cuan. Begitu juga dengan mahasiswi Uncle D di Unpam yang bernama Bella Claudina alias Claudinab. Bermula dari suka membaca novel di watpadd, Bella menulis novel dengan menggunakan noted di hape. Di luar dugaan, novelnya dibaca hingga 2.5 juta dan dilirik oleh Gramedia hingga diluncurkan di Gramedia Menteng JakPus.

Selain itu, contoh lainnya ialah video konten kreatif https://www.youtube.com/watch?v=oZntTNRbEuw yang dibuat oleh mahasiswa dalam membumikan nilai-nilai pancasila. Diharapkan, hasil konten kreatif kolaborasi ini mampu membuka kesadaran generasi milenial Y dan Z agar bisa memahami dan menyerap nilai-nilai pancasila.

Na.. Saat ini pun dapat kita lihat para guru di kelas menulis yang dipelopori oleh Om Jay memanfaatkan blog untuk menulis resume. Seperti diriku saat ini. Alhasil, banyak guru yang pandai menulis dan menerbitkan berbagai buku. Semoga demikian pu aku, aamiin.😊

Berbagai pertanyaan menarik pun muncul pada sesi tanya jawab, diantaranya:

Q:   Kemampuan digital untuk masa depan yg cerah tapi mengapa saya justru khawatir kalau generasi mendatang tanpa mengenal lingkungan, sosial, dan yg lebih parah ajaran agama masing-masing karena sibuk dengan dunia digital. Bagaimana supaya kekhawatiran saya tidak akan terjadi dan bagaimana cara menghilangkan kekhawatiran ini?

A:  Teknologi tidak bisa kita hindari karena begitu cepat perkembangannya. Hal ini juga yg mengkahwatirkan kita sebagai orang tua. Dibutuhkan peran orang tua dan koloborasi madrasah/sekolah dan masyarakat. Bahwa, anak juga perlu pendampingan agar bisa diarahkan untuk mengenal lingkungannya. Ajaklah sesekali mereka keluar mengenal alam dengan camping dsb.   Orang tua menjadi teladan, jadi harus bijak dan cerdas juga dalam menggunakan gawai. Sebab, ortu adalah cerminan bagi anak-anak mareka. Ajaklah shalat berjamaah, mengaji bersama sehingga quality time bagi keluarga.

 

Q:   Terkadang kita sudah terkekang oleh zona yang nyaman sehingga merasa enggan untuk mengasah kemampuan literasi kita. Yang mau saya tanyakan disini adalah bagaimana memaksimalkan apa yg kita miliki dalam mengembangkan keterampilan digital?

A:     Allah menciptakan kita tidak sia-sia. Teruslah mengasah keterampilan. Ketika Om Jay membuka kelas bicara, menulis dan motivator digital, maka coba kita praktikan pelan-pelan. Kadang, batu akik itu jika tidak di gosok tidak akan menjadi batu yang mahal, analoginya. Pada dasarnya manusia diberikan potensi, jika kita asah, maka akan menjadi ketrampilan. Ayo, beranilah memulai dan tetap Semangat.

Kita para guru sepatutnya memiliki segudang ilmu. Yuk tingakatkan keterampilan kita serta manfaatkan berbagai platform di dunia digital dengan membuat konten kreatif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan, Resep 4C adalah bergabung dengan TIM OM JAY untuk kemudian ditularkan ke rekan, peserta didik dan juga masyarakat di sekitar kita.


Flyer di atas merupakan closing statement dari pertemuan sore ini. Terima kasih, Uncle D dan Bunda Ewi. Jazakumullah ahsan jaza’
😊


Anak Muda Berani Bikin Perubahan di Dunia Digital

 


Bismillahirrahmaanirrahiym,

Assalaamu ‘alaykum wa rahmatullah wa barakaatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang Menggenggam kita dalam KuasaNya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Alihi wa Salaam.

Sore ini, Senin (22/11/2021), kelas online Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) kembali dilaksanakan via WhatsApp sebagaimana dijadwalkan. Narasumber dan moderator pada kesempatan kali ini sama-sama merupakan alumnus kelas Belajar Menulis gelombang 19 atau yang biasa disingkat BM-19.

Pembuka kegiatan dimulai dengan perkenalan diri oleh Pak Muliadi selaku moderator. Berikutnya ruang dan waktu sepenuhnya disilakan kepada sang narasumber.

“Perkenalkan, saya Ibu Rosminiyati, seorang ‘anak muda’ yang berusia 51 tahun, guru SMK 2 Negeri Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saya adalah peserta Belajar Menulis PGRI asuhan Om Jay gelombang 19 (12 Juli s.d. 17 September 2021) yang dengan penuh perjuangan baru saja lulus dari kelas belajar ini (Oktober 2021). Terima kasih kepada gurunda Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. atau Om Jay atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk belajar berbagi di kelas yang istimewa ini.” Tulis Bunda Ros dalam pesan WA nya.

Selanjutnya Bunda Ros pun menggambarkan sejarah keberadaannya dalam kelas GMLD dan dengan rendah hati mengawali penyampaian materi sore ini sembari memantik semangat para peserta untuk dapat lulus ketika mampu menerbitkan sebuah buku solo hasil dari secara berkala menulis resume di kertas digital bernama blog.

Beliau juga menunjukkan buku karya beliau yang berjudul “jendela literasi, kumpulan artikel dunia menulis dan menerbitkan buku” yang mana dengan paparan tersebut beliau sedang menyampaikan dasar materi kelas GMLD sore ini yang bertema “Anak Muda Berani Bikin Perubahan di Dunia Digital”.

Menyebut tema tersebut, rupanya Bunda Ros ingin mengurai 2 kata kunci untuk dibahas pada kesempatan ini. Sebab, menurut beliau kata-kata yang lainnya telah dibahas di kesempatan terdahulu oleh para narasumber sebelumnya. Dua kata dimaksud beserta artinya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V online, yaitu:

1.       πŸ‘‰ Berani, “mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi   bahaya, kesulitan, dan sebagainya; tidak takut (gentar, kecut)”.

2.        πŸ‘‰ Perubahan adalah hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran.

Tentunya yang menjadi fokus kita adalah perubahan dari keadaan semula menjadi lebih baik dari pada sebelumnya. Lalu, Mengapa perlu melakukan perubahan di dunia digital? Jawabannya ialah karena beberapa hal berikut ini:

1.     ❤  Kebutuhan. Perubahan dan perkembangan teknologi termasuk pada bidang pendidikan. Sebagai guru kita juga harus mengikuti perubahan tersebut. Sebab banyak hal kini beralih ke aplikasi/program secara digital. Sebagai contoh, pengisian data madiri Guru & Tenaga Kependidikan (GTK) ataupun data siswa, bahkan juga penginputan nilai untuk e-raport siswa oleh masing-masing guru mata pelajaran serta wali kelas kini menggunakan aplikasi Rapor Digital Madrasah (RDM). Selain itu, derasnya laju informasi yang timbul akibat kemajuan teknologi menuntut guru untuk melakukan perubahan agar kemudian tidak ‘berada di belakang’ alias ditinggalkan oleh muri-murid kita.

2.      ❤  Menyalurkan hobi.

3.       ❤  Tambahan income

4.      ❤  Berbagi.

 

Sedangkan hal-hal yang mempengaruhi perubahan di dunia digital ialah antara lain:

1.       ❤  Tekad atau semangat.

adanya keinginan yang kuat untuk melakukan perubahan di dunia digital akan membuat kita berusaha belajar kapanpun, di mana pun, dan dengan siapa pun.

2.       ❤  Lingkungan.

Pengaruh lingkungan terhadap perubahan kita di dunia digital sangat besar. Apabila kita berada di lingkungan orang-orang yang sangat aktif bergelut dalam dunia digital, maka tanpa disadari kita pun akan terbawa arus tersebut. Sebaliknya, jika lingkungan kita termasuk golongan terbelakang, bisa dipastikan kita juga hanya akan jalan di tempat.

3.       ❤  Sarana/Prasarana.

Dunia digital terkait erat dengan sarana/prasarana seperti gawai, laptop, PC, kuota data internet, jaringan, listrik, dll. Tanpa fasilitas-fasilitas tersebut tentu saja kita tidak bisa melakukan perubahan di dunia digital.

4.       ❤  Kesempatan.

Kadang kita temukan keadaan seseorang ingin melakukan perubahan di dunia digital. Namun, karena tidak ada kesempatan, maka perubahan itu pun menjadi tertunda.

5.       ❤  Dukungan.

Ada kalanya, untuk melakukan perubahan, kita memerlukan dukungan orang-orang di sekitar kita dalam bentuk dukungan fisik, mental, dan finansial. Hal ini penting, karena bagi orang-orang tertentu, melakukan perubahan di bidang digital bukanlah hal sederhana.

Satu hal yang perlu kita sadari ialah kita semua di sini adalah motivator, yang artinya orang (perangsang) yang menyebabkan timbulnya motivasi pada orang lain untuk melaksanakan sesuatu; pendorong; penggerak. (KBBI V online).

Karena pada dasarnya sebagai guru kita berperan sebagai motivator bagi anak muda (murid-murid, anak-anak kita) untuk berani melakukan perubahan di dunia digital. Untuk bisa menggerakkan orang lain agar berubah, tentunya kita sudah harus menggerakkan diri kita sendiri untuk berubah.

Mengapa demikian?

Karena kita adalah guru dan orang tua yang menjadi model bagi murid-murid dan anak-anak kita. Dan, anak-anak tidak akan bergerak jika kita hanya menyuruh atau mengajak tanpa adanya bukti yang bisa mereka lihat atau tiru. Contoh dalam bentuk perbuatan lebih berarti daripada sekedar berkata-kata.

Masalahnya sekarang adalah apakah kita sendiri sudah berubah? atau tepatnya, Apakah kita sendiri sudah berani melakukan perubahan?

Terkait perubahan, setiap kita tentu berbeda. Perubahan untuk masing-masing kita disesuaikan dengan kondisi awal yang kita punya. Beberapa bentuk atau jenis perubahan di Dunia Digital, misalnya:

1.       Tidak bisa -> bisa;

2.       Tidak berani -> berani;

3.       Sudah bisa -> banyak/terampil;

4.       Banyak -> berkualitas;

5.       Sendiri -> kolaborasi;

6.       Sederhana/biasa -> istimewa/unik/menarik;

7.       Tidak berguna -> bermanfaat;

8.       Untuk sendiri -> berbagi/inspiratif/memotivasi;

9.       Dan lain sebagainya.

 

Orang-orang hebat di ruang maya saat ini, awalnya bermula dari bukan siapa-siapa. Karya-karya luar biasa yang mereka cetuskan saat ini adalah buah dari perubahan yang mereka dapatkan dalam berproses melakukan perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, kita tidak perlu minder ataupun takut untuk melakukan perubahan di dunia digital. Kita hanya perlu memulai dan terus menapaki jalan menuju perubahan ke arah yang senantiasa lebih baik.

Tentu saja dalam menjalani proses perubahan, sabar menjadi salah satu kunci rahasianya. Dan sudah sepatutnya kita berpijak pada latar belakang pengetahuan dan pengalaman, serta “perangkat lunak” yang ada pada diri kita masing-masing. Siapa yang lebih dahulu memulai berjalan pastilah di depan daripada yang menyusulnya. Fokus dan kelajuan pun akan ikut menentukan pergerakan kita dalam bermetamorfosa. Dan, hal-hal yang bisa kita lakukan dalam gerakan perubahan antara lain:

1.       ☺ Mengubah mindset (pola pikir).

Ubah pola pikir kita yang misalnya selama ini menjadikan usia (tua) sebagai alasan untuk tidak berubah dan tidak mau beradaptasi dengan keadaan. Misalnya guru, ada yang berdalih hampir pensiun, sulit dan tidak mampu serta melabelkan diri guru jadul dan lain sebagainya yang seolah betah dengan julukan itu. Bahkan waktu pun bisa dijadikan ‘kambing hitam’. Padahal setiap kita memiliki 24 jam yang sama setiap harinya, bukan?

So, kita hanya harus mengatur waktu kita dengan baik serta mengubah pola pikir kita menjadi.. saya bisa!

2.       ☺ Meluruskan niat.

Niatkan perubahan yang kita lakukan untuk kebaikan umat, khususnya anak-anak didik kita. Adalah lumrah bila kemudian pada saat kita melakukan perubahan, banyak kendala yang menghadang.

Bukankah setiap kita akan mendapatkan segala sesuatu sesuai niatnya? Jika niat kita untuk memberi kebermanfaatan bagi banyak orang demi mengharapkan ridha Allah, maka teruslah melangkah akan ada banyak jalan yang memudahkan urusan kita.

 

3.        ☺  Berani keluar dari zona nyaman.

Betapa ini sebuah tantangan. Banyak kesenangan yang harus ditukar dengan berbagai kesulitan yang kita hadapi dalam gerakan perubahan diri.

Cara yang paling ampuh adalah dengan memaksakan diri. Perbuatan baik dimulai dari keterpakasaan, kemudian berubah menjadi kebiasaan, selanjutnya menjadi kebutuhan. Apabila sudah sampai pada kebutuhan, jika kita tidak melakukannya, kita akan merasa haus dan lapar.

Ah, poin ini bukan hanya untukmu, tapi justru lebih pas untuk diriku sendiri.

4.        ☺ Bergabung dalam komunitas.

Ruang lingkup yang sempit, membuat kita sulit berkembang. Sedangkan Berada dalam komunitas, menjadikan kita semakin terbuka terhadap perubahan. Amat banyak hal baru yang menginspirasi, memotivasi, dan menguatkan kita untuk mengubah diri. Bahkan, kesempatan berkembang luar biasa terbuka lebar.

“Metamorfosa besar-besaran terjadi pada diri saya, yang diikuti oleh serentetan keindahan yang dipersembahkan oleh Pemilik ilmu dan kehidupan melalui tangan para guru hebat di bawah naungan PGRI.” Kalimat Bunda Ros ini cukup menjadi bukti bahwa berada dalam komunitas adalah satu hal penting agar kita berani melakukan dan tetap terpacu menjalani perubahan.

5.        ☺ Bangun kolaborasi.

Oleh sebab kita, manusia yang sejatinya penuh keterbatasan, maka kita perlu berkolaborasi dengan yang lainnya. Kolaborasi membuat kekuatan menjadi berlipat ganda dan kekurangan bisa ditutupi dan saling mengisi sehingga terciptalah karya yang luar biasa.

Bunda Ros bahkan menunjukkan satu contoh nyata hasil kolaborasi berupa sebuah video beliau berikut https://www.youtube.com/watch?v=6am-ohG0cbs.

 

6.        ☺ Mulai.

Gerakan apapun takkan mungkin terjadi tanpa memulainya. Jangan ditunda. Yuk, sekarang saatnya mulai melakukan perubahan di dunia digital.

Selanjutnya, karena dunia digital tak hanya seluas ukuran ponsel melainkan sangat luas bahkan tanpa batas wilayah tertentu.  Maka terkait jenis platform digital, rahasianya adalah fokus pada apa yang kita sukai dan pahami. Sehingga dengan bergulirnya waktu, kita bisa terus mengembangkan diri dengan belajar yang lainnya juga. Dan bukan tidak mungkin kita bisa belajar dari para anak muda termasuk di dalamnya anak-anak kita yang bahkan memang jauh lebih berkemampuan dalam urusan platform digital.

Tugas kita ialah meluruskan mereka dalam hal penggunaan media digital. Sebagian besar waktu yang mereka habiskan untuk bermain game dengan gawai, kita alihkan ke kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat diantaranya beberapa cara berikut ini:

1.       πŸ’š Kolaborasi dengan sesama guru.

Kita berada dalam komunitas yang luas dengan jumlah anak didik kita yang tentu jauh lebih banyak daripada diri kita seorang. Maka kita perlu berkolaborasi dengan rekan-rekan kita di madrasah/sekolah.

2.       πŸ’š Melakukan sosialisasi mengenai literasi digital.

Ini bisa kita lakukan saat pertemuan tatap muka dengan anak didik kitadi kelas, pada saat upacara, atau di waktu khusus.

3.       πŸ’š Memfasilitasi anak didik kita melakukan hal positif di dunia digital.

Salah satu caranya adalah dengan membentuk komunitas di madrasah/sekolah seperti komunitas bloger madrasah/sekolah, komunitas youtuber madrasah/sekolah dsb.

4.       πŸ’š Memotivasi.

Yang bis akita lakukan adalah mengadakan perlombaan, memberikan apresiasi, memberikan hadiah dll.

Demikian penyampaian materi dari Bunda Ros.

Poin-poin dalam materi kali ini menjadi pengingat bahwa kita adalah kita yang tetap harus bersama sebagai satu keluarga GMLD.

Terima kasih, Bunda Ros dan Pak Mul serta Om Jay dan segenap tim GMLD. Barakallah fiykum, Semoga Allah membalas jerih payah gurunda kita semua dengan balasan terbaik dari sisiNya. Aamiin.

Cara Ampuh Memaksimalkan Potensi Digital

 


Bismillah..

Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang senantiasa melindungi dan merahmati kita.

Selawat dan salam semoga selalu tercurah atas Baginda Nabi Muhammad SAAW.

Jumat, 19 November 2021, pertemuan ke-9 kelas online Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) dilangsungkan via zoom meeting. Pasangan Narasumber dan Moderator pada pertemuan kali ini ialah Bunda Helwiyah dan Mz Phia. Materi yang disampaikan bertema Cara ampuh memaksimalkan potensi di digital world.


Bunda Ewi -sapaan sayang dari kami peserta GMLD kepada narasumber yang kini mengabdikan diri di SDN Duren Sawit 14 Jakarta timur ini- memaparkan materinya dengan sangat apik, diawali dengan defenisi Literasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan juga kutipan dari Kompas.com terkait literasi digital.


Selanjutnya beliau pun menunjukkan hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis secara serentak pada selasa, 3 Desember 2019. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) atau badan kerja sama ekonomi internasional selaku penyelenggara PISA mencatat tahun 2018 Indonesia termasuk berada di urutan bawah.

Apa sih PISA sebenarnya?

PISA ialah penilaian tingkat dunia yang diselenggarakan secara periodik dalam tiga-tahunan untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun (15 tahun 3 bulan hingga 16 tahun 2 bulan) terkait kompetensi Membaca, Matematika, dan Sains. Ini bertujuan untuk menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia, dengan maksud untuk meningkatkan metode-metode Pendidikan dan hasil-hasilnya.

Selain menitikberatkan penilaiannya pada bidang studi inti yakni membaca, matematika dna sains, PISA juga menilai kemahiran inovasi siswa, yang pada PISA 2018 disebut kompetensi global.

Di Indonesia, tes PISA 2018 dilaksanakan pada 19 Maret hingga 19 April. urutan nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Meskipun demikian didapati pula bahwa sikap positif siswa Indonesia terhadap belajar meningkat hampir 50% selama 6 tahun. Pada PISA 2012, hanya 60% siswa Indonesia yang memiliki sikap positif terhadap belajar. Persentase ini meningkat menjadi 90% pada survei PISA 2018.

Grafik hasil survey 7 putaran PISA Indonesia

Sumber gambar: laporan Nasional PISA 2018 Indonesia

Sebagai upaya memperbaiki nilai PISA Indonesia, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, disiapkan lima strategi untuk menjalankan pemebelajaran holistik demi mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Berikut ini 5 (lima) strategi dimaksud: 

1.    1.  Transformasi kepemimpinan sekolah.

Hal ini dilakukan dengan memilih generasi baru kepala sekolah dari guru-guru terbaik. Untuk mendukung penerapan strategi ini, Kemendikbud akan mengembangkan marketplace Bantuan Operasional Sekolah (BOS) online yang bertujuan memberikan kepala sekolah fleksibilitas, transparansi, dan waktu meningkatkan kualitas pembelajaran.

2.    Reformasi Pendidikan profesi guru.

Mencetak generasi guru "baru" Untuk meningkatkan kompetensi guru, Kemendikbud akan melaksanakan transformasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk menghasilkan generasi guru baru. Kemendikbud juga akan mendorong munculnya kurang lebih 10.000 sekolah penggerak yang akan menjadi pusat pelatihan guru dan katalis bagi transformasi sekolah-sekolah lain.

3.    Penyederhanaan kurikulum.

Guru didorong untuk mengajar sesuai tingkat kemampuan siswa. Strategi ini akan dilakukan dengan cara menyederhanakan kurikulum sehingga lebih fleksibel dan berorientasi pada kompetensi. Selain itu, akan dilakukan personalisasi dan segmentasi pembelajaran berdasarkan asesmen berkala.

4.    Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) menggantikan Ujian Nasional (UN).

AKM digunakan untuk mengukur kinerja sekolah berdasarkan literasi dan numerasi siswa, dua kompetensi inti yang menjadi fokus tes internasional seperti PISA, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS). Serta Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar juga akan digunakan untuk mengukur aspek-aspek non-kognitif untuk mendapatkan gambaran mutu pendidikan secara holistik.

5.    Kemitraan dengan daerah dan masyarakat sipil.

Platform teknologi pendidikan berbasis mobile Kemendikbud akan mendorong ratusan Organisasi Penggerak untuk mendampingi guru-guru di Sekolah Penggerak. Selain itu, juga menggunakan platform teknologi pendidikan berbasis mobile dan bermitra dengan perusahaan teknologi pendidikan (education technology) kelas dunia. Termasuk menggerakkan puluhan ribu mahasiswa dari kampus-kampus terbaik untuk mengajar anak-anak di seluruh Indonesia.

 

Selanjutnya Bunda Ewi pun memaparkan tentang dunia digital sebagai ruang maya yang timbul dari adanya ketersediaan dan penggunaan alat digital untuk berkomunikasi di internet, piranti digital, perangkat pintar dan teknologi lainnya. Atau dengan sebutan digital world yang diartikan sebagai wahana di mana pengunjung dapat bermain sambil belajar, yang menyajikan alat peraga interaktif mengenai teknologi berbasis digital.

Sementara potensi di digital world dapat dikatakan sebagai daya atau kemampuan yang mempunyai kemugkinan untuk dikembangkan dalam digital world.

Di bawah ini adalah 7 (tujuh) cara ampuh memaksimalkan potensi di digital world:

1.     Pola pikir.

Hal mendasar ikut yang mempengaruhi kisah perjalanan hidup kita adalah pikir. Pikran kita ibarat magnet yang mampu menarik segala sesutu menjadi kenyataan. So, biasakan diri untuk berpola pikir baik dan positif.

2.    Target market ataupun follower.

Saat ini semua orang berkesempatan memiliki follower di ruang digital. Bagai asap dan api, terdapat follower tentu karena ada yang menjadi trendsetter. Ini berarti setiap orang bisa saja menjadi trendsetter. Namun, disadari atau tidak kita, guru adalah trendsetter berfollower ‘bejibun’ di dunia nyata apalagi di dunia digital.

3.    Menghargai karya orang lain.

Ciptakan brand diri, Buat ciri khas sendiri.

4.    Hindari menyebarkan hoaks

Bentengi diri dari hoaks dan jadilah pejuang anti-hoaks.

5.    Posting konten.

Jalani THINK (True, Helpful, Inspiring, Necessary, Kind) before post. Dan dengan memperhatikan bahwa kita posting sekali sehari menggunakan fitur live untuk membangun interaksi dengan yang lain.

6.    Update dan upgrade skill

Seperti halnya mengembangkan dan meningkatkan. Itulah update dan upgrade. Karena kita tengah berada di dunia yang terus mengalami perubahan, maka perlu dilakukan pengembangan dan peningkatan kemampuan dan kualitas diri kita.

7.    Konsisten.

Satu hal termahal adalah konsisten yang dalam bahasa agamanya disebut dengan istiqamah. Saking bertantangan penuh, dalam beragama pun disebutkan bahwa Allah menyukai amalan yang walau sedikit, tapi konsisten dilakukan.


Termasuk dengan kembali memperhatikan hasil survey PISA 2018 Indonesia di atas, mari kita bersama-sama meningkatakan kualitas kita sebagai Sumber Daya Manusia Indonesia. Terlebih lagi karena kita adalah para guru yang tertantang zaman agar tak terlindas teknologi yang terus melaju. Sehingga sebentuk upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan diantaranya dapat kita lakukan dengan memanfaatkan dan memaksimalkan potensi kita di digital world.

Terima kasih kami ucapkan kepada Bunda Ewi dan Mz Phia yang telah berbagi dan membersamai kami di kelas GMLD sore ini. Jazakumullah ahsan jaza’. πŸ’

Sampai Ketemu Lagi

Sampai ketemu lagi. "Kak As, nanti saya telpon ya" Aku menjwabnya dengan senyuman. "Sampai ketemu lagi, kak" ia pu...